Showing posts with label Exhibition. Show all posts
Showing posts with label Exhibition. Show all posts
Monday, 24 March 2014
INSTRUKSI: Bukan Sekadar Memberi dan Menerima
(Catalogue essay untuk pameran Exi(s)t #2, 2013, di Dia.lo.gue Artspace)
Instruksi: aba-aba, arahan, isyarat, kode, komando,
perintah, petunjuk, seruan, suruhan, tanda, titah, nasihat, mandat, pesan, titipan,
wasiat, pemberitahuan, petuah, hikmah, makna, pelajaran, mendiktekan, pedoman.
Menuangkan 2 sendok kecil biji kopi tumbuk
kedalam cangkir, mencampurnya dengan sedikit gula, menyeduh kombinasi kedua bubuk
ini dengan air panas, mendiamkannya sebentar hingga suhu menurun sebelum mulai
diminum – entah datang dari mana, tapi ada pola instruksi yang kita ikuti
dalam membuat secangkir kopi. Lanjutkan lagi ke contoh yang lebih besar,
misalnya, mengisi formulir kunjungan ke dokter: cantumkan data pribadi, keluhan
kesehatan, serta nomor telepon keluarga terdekat, sesuai dengan urutan yang tertera
di kertas itu. Atau, berbelanja ke
supermarket: ambil keranjang atau kereta dorong di dekat pintu masuk, pilih
bermacam produk yang kita inginkan dari lorong-lorong yang sudah diberi nomor
dan keterangan, akhiri transaksi dengan membayar di kasir. Tak bisa dipungkiri,
setiap kegiatan kita sehari-hari dijalani sesuai sistem-sistem instruksi
tertentu, yang hadir dalam beragam wujud, bentuk, dan ada untuk memenuhi
bermacam tujuan.
Hidup kita dipenuhi dengan berbagai
instruksi, yang berfungsi untuk memberi arahan, perintah, atau mengisyaratkan
bagaimana kita harus berlaku. Pada sendirinya sebuah instruksi tidak memiliki
arti atau fungsi apa-apa, tapi ketika bersinggungan dengan seseorang dalam
sebuah masyarakat, sebuah instruksi menuntut aksi dan interaksi: warna merah
pada lampu lalu lintas memerintahkan kendaraan untuk berhenti, simbol “X“
mengisyaratkan bahwa kita dilarang masuk, dan sebagainya.
Meski hidup kita sarat akan rangkaian
instruksi yang seakan tak pernah habis, kita jarang mempertanyakan apa yang
dimaksud untuk mematuhi, menentang, atau memberi interpretasi baru akan sebuah
instruksi. Pada pameran Exist kali
ini, kami ingin menawarkan beberapa perspektif yang berbeda akan konsep
‘instruksi’, yang melampaui anggapan umum tentang sekadar ‘pemberian’ atau
‘penerimaan’nya saja. Disini, sudut pandang para peserta memperlihatkan
intepretasi tak terduga atas ‘instruksi’, mulai dari perintah yang datang dari
alam bawah sadar, alienasi yang dirasakan ketika seseorang melenceng dari
kode-kode sosial, hingga berbagai aturan monoton yang terus-menerus kita jalani
di keseharian kita.
Dalam dunia seni, terutama seni performans,
pada umumnya instruksi tidak dianggap sepenting pementasan yang dilakukan.
Meski perannya penting, instruksi kerap disembunyikan. Misalnya, instruksi
untuk sebuah komposisi musik atau koreografi pada teater dan tari sering tidak
diperlihatkan pada penonton; instruksi-instruksi tersebut lebih sering
dihafalkan oleh seniman dan musisi, agar dapat memberikan pementasan yang
seakan-akan terjadi atau mengalir secara natural.
Beberapa peristiwa dari sejarah seni global
pernah menunjukkan pentingnya instruksi dalam praktek seni: mulai dari
murid-murid komposer John Cage yang menganggap notasi musik mereka sebagai
karya seni meski tidak dimainkan, yang akhirnya membentuk aliran Fluxus, hingga
contoh yang lebih baru yaitu pameran do-it yang dikuratori oleh Hans
Ulrich Obrist. Ini menunjukkan bahwa “instruksi” adalah konsep yang patut
dijelajah lebih lanjut.
Di satu sisi, ‘instruksi’ memang
bersifat sosial. Bisa dibilang, ia adalah salah satu landasan paling mendasar
atas bermacam hubungan antar-manusia. Ambil contoh pengalaman di masa sekolah,
seperti pada karya Ratu Raraswati, dimana kita mulai mengalami adanya berbagai
instruksi – yang sering kali tidak disahkan sebagai ‘peraturan’ tapi lebih
berlaku secara ‘diam-diam’ sebagai kode sosial – yang mendikte bagaimana kita
bersikap. Mulai dari memiliki penampilan tertentu hingga menyukai hal yang sama
dengan kebanyakan teman kita: semua ini adalah bagian dari jaringan kode sosial
dan ‘metode pendisiplinan’ yang mengatur perilaku dan pendapat kita.
Installation view karya Ratu R. Saraswati.
Bagaimana kita menyikapi pola instruksi
yang ada di kehidupan sosial kita sudah menjadi bagian dari pertarungan kita
sehari-hari. Kita terus menegosiasi pola-pola tersebut, baik dengan mematuhi,
menentang, atau menyiasatinya. Berpikir tentang negosiasi ini membawa Dhanny
Sanjaya untuk merenungi hakikat kebebasan, terutama ketegangan antara free-will yang diasumsikan dimiliki oleh
semua orang dan berbagai peraturan yang pada saat bersamaan menjerat kehidupan
mereka. Ketika setiap pilihan dan keputusan yang kita ambil selalu berbenturan
dengan instruksi yang ditanam oleh ‘masyarakat umum’, apakah seorang manusia
dapat sepenuhnya menjadi bebas?
Installation view karya Dhanny Sanjaya.
Sebagai bagian dari sebuah ‘masyarakat
umum’, kita mengenal apa yang disebut sebagai ‘rutinitas’, yang terbentuk dari
perulangan instruksi yang sama untuk mencapai kepentingan tertentu. Keseharian
kita dipenuhi oleh keseragaman yang menjerat sekaligus membuat kita terlena,
terus menerus mengikuti pola yang sama tanpa menyadari bahwa kita tak henti
berputar di suatu siklus monoton. Di dalam ruang galeri, Hendra Permana dengan
sengaja menyusun suatu pola instruksi atas beberapa kegiatan untuk pengunjung,
yang meski terlihat jenaka dan seakan bermain-main, sebenarnya menjebak mereka
dalam sebuah siklus rutinitas.
Installation view karya Hendra Permana.
Lain halnya dengan pertimbangan Angga
Cipta, yang melihat bagaimana sistem peraturan yang ada disebuah lingkungan sosial justru
memiliki potensi untuk disiasati. Angga mengambil beberapa peristiwa dari
kesehariannya di Jakarta untuk memperlihatkan potensi terbentuknya
instruksi-instruksi baru dari pola peraturan yang sudah ada disana. Kekisruhan
Jakarta kerap menuntut kita untuk dengan cerdik mengakali hal-hal tak terduga,
seperti menghindari preman atau kehabisan bensin ketika sedang di perjalanan.
Karya Angga menawarkan penjelasan atas langkah demi langkah yang dapat kita
lakukan untuk menyiasati situasi-situasi seperti ini.
Installation view karya Angga Cipta.
Kara Andarani juga mengambil pengalamannya sebagai
warga kota sebagai titik berangkat, dimana dia meminta petunjuk jalan dari
orang yang tidak dikenal. Ketika dirangkai, berbagai instruksi yang didapat –
yang sering kali tidak akurat – memberikan perbandingan yang menarik dengan
peta wilayah Jakarta yang sebenarnya. Rangkaian instruksi yang tidak utuh ini
menunjukkan tiap daerah sebagaimana diingat secara terfragmentasi oleh
penduduknya, yang ketika digabung dengan peta sesungguhnya dan ilustrasi Kara,
memperlihatkan sifat pengalaman kota yang niscaya berlapis dan khaotis.
Detail view karya Kara Andarini.
Di sisi lain, ada juga jenis instruksi yang
sifatnya pribadi, abstrak dan tak berwujud. Ambil contoh, memimpikan tentang
suatu jenis makanan, dan terdorong untuk mencari makanan tersebut ketika kita
terbangun. Seperti yang diperlihatkan oleh karya Sarita Ibnoe, alam bawah sadar
kita seakan memang mampu memberi perintah atas tindakan kita saat terjaga.
Memang, instruksi tidak harus selalu diutarakan atau disampaikan dengan
gamblang lewat kata-kata. Seri foto Bey Shouqi juga menunjukkan instruksi yang
justru tersirat lewat bahasa tubuh manusia: bahwa tubuh seseorang mampu
menyampaikan bermacam instruksi secara implisit, dan mengundang interaksi
tertentu tanpa perlu disuarakan secara langsung.
Installation view karya Sarita Ibnoe.
Installation view karya Bey Shouqi.
Tak bisa disangkal bahwa
proliferasi teknologi digital juga membentuk pola instruksi yang berbeda dalam
bagaimana kita menjalani keseharian. Dampaknya di praktik seni rupa terlihat
jelas ketika kita perhatikan bagaimana situs-situs online dan aplikasi pada smartphone
memfasilitasi cara produksi, distribusi, dan konsumsi akan kesenian yang
berbeda dengan cara-cara offline. Menanggapi
realita ini, Nady Azhry tidak meletakkan wujud fisik dari karya gambarnya,
melainkan foto digital atas karya tersebut yang berada di website miliknya, dan dihadirkan didalam layar ipad. Dunia digital juga memungkinkan kita untuk menciptakan alter ego, sebuah kepribadian kedua yang
bisa jadi sangat berbeda dengan karakter ‘asli’ seseorang. Terkait hal ini,
Nady Azhry menciptakan sebuah sosok fiktif bernama Malee Marsha – seorang make up artist dengan hobi olahraga muay thai – yang bagian kehidupannya
dapat kita ‘intai’ melalui foto Instagram
yang dihadirkan disini.
Installation view karya Nady Azhry.
Karya-karya di pameran ini adalah wujud penelusuran
yang lebih jauh akan beragam bentuk dan pola instruksi yang menjadi bagian integral
dari keseharian kita. Para seniman yang terlibat di projek Exi(s)t #2 ini mengurai kompleksitas instruksi itu sendiri,
menyentuh dimensi-dimensi yang tak serta-merta tampak diawal: seperti
keterkaitannya dengan metode pendisiplinan, kebebasan, rutinitas, budaya
digital hingga peran alam bawah sadar. Disini, instruksi dimaknai sebagai
sesuatu yang terbuka atas interpretasi dan pembacaan yang lebih dalam – dalam kata
lain, melampaui fungsinya sebagai suatu hal yang sekadar diberikan atau
diterima begitu saja.
Tuesday, 8 October 2013
Exi(s)t #2
![]() |
| Dari kiri ke kanan: Kara, Sarita, Nady, Dhanot, Acip, Hendra, Bey, pak FX Harsono (mentor program ini), Saras. Diambil di Dia.lo.gue Artspace, 15 September 2013. |
Tahun lalu, saya mulai bekerja sama dengan Dia.lo.gue Artspace untuk sebuah program pameran bernama "Exi(s)t", yang akan diadakan tiap tahun. "Exi(s)t" tahun ini akan kembali lagi di bulan Desember, dan ada beberapa hal yang berbeda dari tahun sebelumnya.
Kali ini kami menggelar sistem open-call submission,
dimana yang berminat dapat mengumpulkan portfolio dan dokumen pendukung
lainnya. Ada 70 lebih pendaftar, dan yang lolos seleksi adalah: Nady Azhry, Dhanny
Sanjaya, Hendra Permana, Angga Cipta, Sarita Ibnoe, Bey Shouqi, Ratu Saraswati,
dan Kara Andarani.
Hal lain yang baru dari program tahun ini adalah adanya rangkaian workshop
yang berhubungan dengan tema pameran. Kami mengundang beberapa pembicara, yaitu
Yuka Narendra, Ardi Yunanto, Ardi Gunawan, Irwan Ahmett, dan FX Harsono. Dalam
waktu 4 hari, kami mendapat perspektif yang berbeda-beda tentang tema pameran, sesuai
dengan latar belakang tiap pembicara. Dibawah ini adalah cuplikan dari curatorial brief yang saya berikan:
Curatorial Brief untuk program “Exi(s)t #2”,
2013, Dia.lo.gue Artspace.
Sebuah Pameran mengenai Instruksi (Judul akan
ditentukan).
Instruksi: aba-aba n arahan,
instruksi, isyarat, kode, komando, perintah, petunjuk, seruan, suruhan, tanda,
titah, arahan, nasihat, instruksi, mandat, pesan, suruhan, titah, titipan,
wasiat, pemberitahuan, petuah; hikmah, makna, moral, pelajaran; mendiktekan,
pedoman.
Hidup kita dipenuhi dengan berbagai instruksi, yang berfungsi untuk memberi
arahan, perintah, atau mengisyaratkan bagaimana kita harus berlaku. Pada
sendirinya sebuah instruksi tidak memiliki arti atau fungsi apa-apa, tapi ketika
bersinggungan dengan seseorang dalam sebuah masyarakat, sebuah instruksi
menuntut aksi dan interaksi: warna merah pada lampu lalu lintas memerintahkan
kendaraan untuk berhenti, simbol “X“mengisyaratkan bahwa kita dilarang masuk,
dan sebagainya.
Meski hidup kita sarat akan rangkaian instruksi yang seakan tak pernah
habis, kita jarang mempertanyakan apa yang dimaksud untuk mematuhi, menentang,
atau memberi interpretasi baru akan sebuah instruksi.
Dalam dunia seni, terutama seni performans, pada umumnya instruksi tidak
dianggap sepenting pementasan yang dilakukan. Meski perannya penting, instruksi
kerap dimarjinalkan: instruksi untuk sebuah komposisi musik, atau koreografi
pada teater dan tari sering tidak diperlihatkan pada penonton. Instruksi-instruksi
tersebut lebih sering dihafalkan oleh seniman dan musisi, agar dapat memberikan
pementasan yang seakan-akan terjadi atau mengalir secara natural.
Beberapa peristiwa dari sejarah seni pernah menunjukkan pentingnya
instruksi dalam praktek seni: mulai dari murid-murid komposer John Cage yang
menganggap notasi musik mereka sebagai karya seni meski tidak dimainkan, yang
akhirnya membentuk aliran Fluxus, hingga contoh yang lebih baru yaitu pameran do-it yang dikuratori oleh Hans Ulrich
Obrist. Ini menunjukkan bahwa “instruksi” adalah konsep yang patut dijelajah
lebih lanjut.
***
Sekarang, saya dan peserta sedang terlibat dalam proses kuratorial. Seperti setiap project baru, selalu banyak yang bisa saya pelajari disini.
Tuesday, 28 May 2013
Beberapa hal...
Pendaftaran untuk pameran "Exi(s)t #2 di Dia.lo.gue Artspace kembali dibuka. Secara singkat, ini kriterianya:
1. Berdomisili di Jakarta
2. Berlatar belakang pendidikan apapun, baik seni maupun non-seni
3. Bukan berstatus mahasiswa dan pada tanggal 31 Desember 2013 belum berusia 30 tahun.
Untuk info lebih lanjut, bisa dibuka link ini. Jangan lupa pendaftaran ditutup tanggal 17 Juni 2013!
Dan, artikel terbaru saya di Whiteboard Journal.
1. Berdomisili di Jakarta
2. Berlatar belakang pendidikan apapun, baik seni maupun non-seni
3. Bukan berstatus mahasiswa dan pada tanggal 31 Desember 2013 belum berusia 30 tahun.
Untuk info lebih lanjut, bisa dibuka link ini. Jangan lupa pendaftaran ditutup tanggal 17 Juni 2013!
Dan, artikel terbaru saya di Whiteboard Journal.
Subscribe to:
Posts (Atom)










