Monday, 9 January 2012
Sebelum Budaya
Tuesday, 27 December 2011
Sarang
Di posting sebelumnya, saya mengatakan pentingnya ‘mengupas’ ke-manusia-an dengan mempertanyakan bagaimana subjektifitas seseorang terbentuk. Subjektifitas tersusun dari bagaimana seseorang berinteraksi dengan ruang sekitarnya, sebuah interaksi yang dialami sebagai 'suasana'. Ini adalah persoalan yang harus dikaji secara fenomenologis. Untuk memulai analisa, sebuah pertanyaan awal dirumuskan: bagaimana ‘suasana’ terbentuk?
Melihat sekilas dari beberapa kamus, ada beberapa ungkapan dan kata kunci yang timbul: ‘the atmosphere of a place’, misalnya. Ditemukan juga bahwa sebuah kata yang bersangkutan, ‘ambiance’, ternyata berasal dari rumpun kata Perancis ‘ambiant’, yang berarti ‘surrounding’ atau ‘yang mengelilingi’. Ini adalah petunjuk atau clue yang unik. Apa yang mengelilingi kita, kalau bukan ruang? Benda-benda, orang lain, berbagai situasi… semua ada di sekitar kita ‘didalam’ suatu ruang. Contoh:
Langkah analisa selanjutnya adalah untuk menjelaskan bagaimana sebuah suasana terbentuk, melalui deskripsi akan ruang dimana pengalaman itu berlangsung. Pertanyaan awal yang abstrak tadi mulai menjadi lebih konkrit. Deskripsi singkat tentang bentuk fisik ruang ini dapat menyatakan ukuran dan isi: taman sebesar 2.5 x 7 meter, jenis tumbuhan tropis seperti palem dan kamboja, bangku dari kayu, pagar dari semen, dan dibelakangnya terlihat konstruksi rumah yang sedang dibangun.
Tapi, tugas untuk mendeskripsikan ruang menjadi lebih rumit jika dirumuskan sebagai berikut: ‘bagaimana ruang ini dialami oleh saya?’ Berbeda dengan sekadar pertanyaan ‘ruang apa’, yang mengundang penjelasan secara umum. Disini ‘saya’ menjadi kata kunci. Karena ‘ruang’ tidak lagi bisa dijelaskan secara objektif, berdasarkan observasi quantitatif tentang ukuran dan isi saja. Deskripsi objektif, yang sering menjadi ‘alat’ ilmiah, tampak tidak memadai untuk usaha mengetahui pengalaman saya akan ruang ini, karena mengabaikan aspek-aspek lain yang ada disini.
Aspek-aspek apa lagi yang ‘ada’ di ruang ini, diluar bentuk fisiknya? Pertama, sudut pandang tubuh seseorang. Saya menatap ruang ini dari posisi duduk dihadapannya; jika saya duduk menyimpang, atau berada diluar pagar dan bukan didalamnya, tentu akan membuahkan sebuah sudut pandang yang berbeda. Ini menunjukkan bahwa sudut pandang seseorang terbatas dan unik – tidak ada sudut pandang lain yang cakupannya sama persis dengan posisi saya sekarang ini. Posisi duduk ini terkait dengan ‘keunikan’ subjektif lain seperti habit atau kebiasaan: saya tidak suka duduk membungkuk, dan kerap memicingkan mata jika memperhatikan sesuatu. Hal-hal sederhana ini membuat perspektif yang unik, yang milik tubuh saya sendiri.

Kedua – dan ini terkait dengan poin pertama – menyangkut waktu. Sudut pandang saya tidak hanya terdiri dari posisi tubuh tapi juga posisi waktu: saya ada di ‘ruang’ ini (here), di ‘saat ini’ (now). Waktu pada jam mengatakan: Senin, 26 Desember 2011, 10.32 pagi. Tapi ini adalah waktu objektif, calendar-time. Bagi saya, ‘waktu’ dialami - misalnya - sebagai urutan tugas-tugas yang saya harus lakukan hari ini: jam 11.30 berangkat dari rumah untuk bertemu teman, malam hari saya akan makan di sebuah restoran bersama keluarga, sepulang dari sana saya akan mencoba menyelesaikan tulisan yang sudah saya janjikan. Waktu objektif – yang tertera di kalender dan jam dinding – bertaut dengan waktu subjektif, dan menjadi suatu pengalaman akan waktu yang unik untuk saya.
Ditelusuri lebih jauh, ‘waktu subjektif’ menunjuk tidak hanya kepada daftar tugas yang harus saya lakukan hari ini, tapi juga memori – ingatan akan waktu yang sudah lewat. Misalnya: di ruang ini, saya mengingat taman di rumah terdahulu yang sebelumnya pernah saya huni. Selain memori, ada juga imajinasi. Saya mulai membayangkan taman apa yang akan saya bangun untuk rumah saya di masa depan. Ruang ini terbingkai oleh pengalaman subjektif saya akan hukum umum tentang tiga aspek waktu – yang lalu, yang sekarang, dan yang akan datang.
Hal-hal seperti ini terlihat sepele dan sering diabaikan. Padahal, bagaimana seseorang memaknai dunianya beranjak dari pengalaman-pengalaman ini. Saat saya duduk disini, berkat lapisan kebiasaan, jadwal, memori dan imajinasi – yang menyatu di tubuh saya – suatu suasana yang unik hadir. Inilah yang dimaksud oleh terminologi teknis fenomenologi dengan 'lived experience': bagaimana ruang di'hidupi' oleh si subjek. Bagi saya, ruang ini, di saat ini, adalah sarang. Pernyataan ini bukan metafora: ruang ini tidak seperti sarang, tapi adalah sarang. Suatu wadah untuk menaungi kompleksitas hubungan timbal balik antara ruang dan tubuh, antara seorang subjek dan dunianya.
Wednesday, 21 December 2011
Mari Meneliti!
Eka Permanasari (Arsitektur) berbagi penelitian tentang rumah lapak di daerah Jurang Mangu, Tangerang, yang dianalisa sebagai jenis gated community baru. Menurutnya, perumahan lapak ini mempunya beberapa ciri yang sama dengan gated houses: mempunyai gerbang, pagar, ada entry dan exit points. Cara pendapatan tanahnya juga unik. Mereka mempunyai semacam ‘kepala suku’ atau landlord yang menyewa tanah itu dari tuan tanah, dan kemudian membayar uang sewa kepada si landlord ini. Jadi, ketidak jelasan antara batas legal/illegal terlihat secara nyata dari bagaimana penduduk perumahan ini menggunakan ruang kota. Satu cara - diantara banyak cara - memandang fenomena seperti ini adalah sebagai bukti bahwa spasialitas kota terbentuk melalui proses negosiasi antar kalangan marjinal dan otoritas dominan.


(Terima kasih banyak foto-fotonya Mbak Eka!)
Mbak Eka juga mengingatkan saya bahwa perumahan ‘kitsch’ – misalnya Taman Wisata di Cibubur – adalah reaksi terhadap imbasan tragedi ’98. Hasrat untuk ‘melupakan’ luka secara masal – collective trauma – termanifestasi dalam bentuk dorongan untuk ‘menghapus’ keindonesiaan dari wajah kota.
Satu pertanyaan yang masih ‘nggantung’ di kepala saya menyangkut sejarah perkotaan di Indonesia (urban history). Apakah lapak houses meniru gated community, atau sebaliknya? Cara menetap dan menghuni yang mana yang hadir duluan? Insting saya mengarah kepada lapak houses, yang terlihat begitu ‘mentah’, berasal dari keputus asaan (desperation), dan terbangun tanpa perencanaan terperinci. Tapi ini tentu saja baru spekulasi dari saya. Saya jadi ingin tahu, secara kesejearahan, perkotaan di Asia Tenggara itu terbentuk dari upaya grassroots seperti ini, atau pembangunan yang terencana? Harus dicek ke ahlinya atau setidaknya buka buku-buku sejarah urbanisme Asia Tenggara.



