Showing posts with label research. Show all posts
Showing posts with label research. Show all posts

Tuesday, 28 May 2013

TextuRality

Tanggal 30 Mei - 02 Juni ini, Tamkang University, Taipei, menjadi host untuk conference International Deleuze Studies. Ini link untuk acara tersebut. Saya akan mempresentasikan sebuah paper mengenai praktek Ardi Gunawan (lihat blognya). 

Ini abstraknya, dalam bahasa Inggris:



Textu(r)ality: 
Thinking beyond the Text with Deleuze and Merleau-Ponty.

This paper will discuss Deleuze’s notion of “assemblage” in the context of Indonesian contemporary art practice, in particular works by Ardi Gunawan. Although this area has recently been subject to substantial academic study (Turner, 2008; Mashadi, 2006), none have approached it from a Deleuzian perspective. This is related to the tendency of much of art history and theory of the last three decades, which are characterized by the “linguistic turn” stimulated primarily by Derrida (1976, 1978) and de Man (1979, 1983). In a nutshell, this perspective holds that all phenomena, including art practices – its production and discourse – must be read and interpreted as a text. As an outcome, it overlooks that we experience the world not as texts to be deciphered and conceptualized through the acts of reading and writing, but first and foremost as corporeal, tangible phenomena that we register through and with the “psycho-physical” aspects of the body (Casey, 1997).

Deleuze and Merleau-Ponty offer a way to think beyond textuality by turning instead to the embodied engagement we have with events and objects in the world. Both, I argue, shift the theoretical focus from “experience-as-text” by calling attention to the “textures” of embodied experience. Merleau-Ponty’s phenomenology of the body is especially instructive in its argument that embodied perception remains a unique source of meaning (2003). Deleuze takes Merleau-Ponty’s philosophical project of the body further by focusing on the notions of movements and flows, of “material and forces” that produce “assemblages” (1995, 2004).

The aesthetic model provided by Deleuze and Merleau-Ponty is particularly relevant in a discussion about contemporary art practices that negotiate the limits of sculpture and performance. Here, I will discuss the work of a contemporary Indonesian artist, Ardi Gunawan, in order to illustrate my claim. Contemporary art in Indonesia is a thriving area of study and in this paper I aim to add to existing research by discussing the experience of Gunawan’s works in terms of spatio-temporal “assemblages”.



Thursday, 8 March 2012

Beberapa Abstrak...


... yang saya tulis untuk jurnal dan conference. Surprisingly, kali ini mereka relatif mudah untuk ditulis.  Setelah bereksperimentasi dengan beberapa format, akhirnya ini yang saya paling suka. Thanks, Njas, for the reliable editorial eye :)

The ‘Face’ of the Environment:
Catatan Awal mengenai Etika Lingkungan Hidup

Pemulihan lingkungan hidup dari berbagai kerusakan buatan manusia adalah sebuah permasalahan yang harus diurai secara filosofis, seperti yang telah disarankan oleh berbagai kajian filsafat kontemporer (Evernden, 1993; Foltz, 1995; Toadvine & Brown, 2003; Toadvine, 2009; Morton, 2009). Walau argumentasi yang diajukan oleh studi-studi ini beragam, satu hal yang disepakati adalah manusia mempunyai tanggung jawab untuk memperbaiki lingkungan hidup mereka, dan tugas filsafat adalah menganalisa bagaimana tanggung jawab ini dapat dipenuhi.

Menanggapi hal ini, paper ini memberikan analisa deskriptif tentang persepsi seseorang akan degradasi alam, dengan menggunakan metode filsafat fenomenologi. Khususnya, basis teoritis yang digunakan adalah gagasan M. Merleau-Ponty tentang persepsi dan intersubjektifitas (2002), E. Levinas tentang peran ‘wajah’ dalam pembentukan hubungan etika (1985), dan E. Casey tentang glance atau kilasan mata (2007).

Permasalahan utama yang mendasari analisa ini adalah: apa yang kita ‘tangkap’ melalui persepsi saat kita berhadapan dengan berbagai gejala kerusakan lingkungan, mulai dari musnahnya ekosistem, punahnya margasatwa, perubahan cuaca yang kian drastis, dan seterusnya? Hipotesis awal yang ditawarkan adalah pengertian umum akan ‘persepsi’ harus dibongkar menurut teori pentubuhan (embodiment) apabila kita hendak memenuhi tanggung jawab etis terhadap degradasi lingkungan. Hal ini dianggap penting karena kajian tentang etika lingkungan hidup yang telah ada kerap mengabaikan peran tubuh.

Secara fenomenologis, pengabaian ini merupakan suatu kejanggalan,  mengingat bahwa manusia mencerna lingkungan sekitar melalui tubuhnya. Tubuh adalah wadah pengalaman panca-indrawi dan mental, dan melaluinya kita membentuk persepsi tentang apa yang ada di sekitar kita: contoh, kita tidak perlu lebih dari sekilas mata untuk melihat adanya bahaya dari penggundulan hutan di Sumatra, untuk kemudian menalar penilaian tertentu terhadap situasi yang ada. Ini menunjukkan bahwa fokus pada pentubuhan tidak lagi bisa dikesampingkan dalam upaya kita menjalin hubungan yang kritis dan simpatik dengan lingkungan sekitar, sebuah hubungan yang harus dimaknai sebagai ‘tanggung jawab’.

Kata kunci: etika lingkungan hidup, fenomenologi, persepsi, pentubuhan.

Rethinking Nature:  Preliminary Notes for an Environmental Ethics and its Implication for Design Practices

The ‘making of place’ is not only a design issue but also a philosophical one, as exemplified by the continuously growing range of existing literature (Heidegger, 2008; Bachelard, 1994; Tuan, 1977; Casey, 1997; etc.) Despite their varying arguments, a common idea shared by prevalent theories is that ‘placemaking’ is an interactive act formed out of the complex relations between the human subject(s) and places themselves.

The problem of ‘placemaking’ becomes more urgent when we take into account the impacts of environmental degradation. In this essay, I argue that ethically responsible design will only be possible when a sound understanding of our relationship with nature has been established. I aim to do this by first analyzing two normally held assumptions. One is the objectification of nature that sees it as an ‘object out there’, towards which we project values. Second is the ‘deep ecology’ perspective that argues for a fundamental ‘kinship’ between nature and us that reduces the relation to a formulaic harmony. Both, I argue, only provide a half-painted image of the human-nature relationship.

Here, I will address what both perspectives overlook, which is the fundamental ‘ambiguity’ that characterizes the human-nature relationship. By referring to Levinas and Merleau-Ponty’s phenomenological philosophy, I propose that an understanding of nature that accommodates the notion of ‘ambiguity’ may shed light on how we can come up with alternative solutions for designing ethically.  

Keywords: Design, ecocritique, environmental ethics, placemaking, phenomenology.

Wednesday, 21 December 2011

Mari Meneliti!


Ada beberapa hal menarik yang keluar dari Research-in-Progress Day di UPJ hari ini.

Eka Permanasari (Arsitektur) berbagi penelitian tentang rumah lapak di daerah Jurang Mangu, Tangerang, yang dianalisa sebagai jenis gated community baru. Menurutnya, perumahan lapak ini mempunya beberapa ciri yang sama dengan gated houses: mempunyai gerbang, pagar, ada entry dan exit points. Cara pendapatan tanahnya juga unik. Mereka mempunyai semacam ‘kepala suku’ atau landlord yang menyewa tanah itu dari tuan tanah, dan kemudian membayar uang sewa kepada si landlord ini. Jadi, ketidak jelasan antara batas legal/illegal terlihat secara nyata dari bagaimana penduduk perumahan ini menggunakan ruang kota. Satu cara - diantara banyak cara - memandang fenomena seperti ini adalah sebagai bukti bahwa spasialitas kota terbentuk melalui proses negosiasi antar kalangan marjinal dan otoritas dominan.


(Terima kasih banyak foto-fotonya Mbak Eka!)

Mbak Eka juga mengingatkan saya bahwa perumahan ‘kitsch’ – misalnya Taman Wisata di Cibubur – adalah reaksi terhadap imbasan tragedi ’98. Hasrat untuk ‘melupakan’ luka secara masal – collective trauma – termanifestasi dalam bentuk dorongan untuk ‘menghapus’ keindonesiaan dari wajah kota.

Satu pertanyaan yang masih ‘nggantung’ di kepala saya menyangkut sejarah perkotaan di Indonesia (urban history). Apakah lapak houses meniru gated community, atau sebaliknya? Cara menetap dan menghuni yang mana yang hadir duluan? Insting saya mengarah kepada lapak houses, yang terlihat begitu ‘mentah’, berasal dari keputus asaan (desperation), dan terbangun tanpa perencanaan terperinci. Tapi ini tentu saja baru spekulasi dari saya. Saya jadi ingin tahu, secara kesejearahan, perkotaan di Asia Tenggara itu terbentuk dari upaya grassroots seperti ini, atau pembangunan yang terencana? Harus dicek ke ahlinya atau setidaknya buka buku-buku sejarah urbanisme Asia Tenggara.

Hal menarik berikutnya datang dari Gita Soerjoatmodjo dan Yuka Narendra, yang sedang melakukan collaborative research berjudul Heavy Metal Moms, Heavy Metal Dads. Temanya memang sudah punya ‘wow factor’ karena tidak sering disentuh secara ilmiah (tentang anak-anak metal 80an di Indonesia yang sekarang sudah menjadi orang tua dan punya anak). Tapi yang juga ‘seru’ buat saya adalah bagaimana mereka berusaha menguji keterbatasan-keterbatasan bidang ilmu masing-masing untuk merevisi dan memperkaya keilmuan tersebut – Yuka dari Cultural Studies, Gita dari Psikologi. Aspirasi intradisipliner ini penting karena punya semangat mencari bentuk keilmuan baru.

Saya sendiri mempresentasikan paper yang akan saya berikan di ISLIVAS nanti, berjudul “’Livable Space’ and Postcolonial Heritage: Rethinking Aesthetics and Ethics”. Di paper ini saya mengkritik (apa yang saya sebut) kitsch spaces di Jakarta, melalui bingkaian issues Estetika dan Etika.