Showing posts with label philosophy. Show all posts
Showing posts with label philosophy. Show all posts

Monday, 24 March 2014

Mutual Contagion



Salah satu hal yang paling menarik dari Deleuze adalah bagaimana pengaruhnya dapat dirasakan di area-area yang tidak terduga. Ini menunjukkan bahwa filsafat Deleuze bersifat sepenuhnya pragmatis: bahkan diawal karirnya ketika dia masih banyak berkutat dengan para sesepuhnya seperti Nietzsche, Hume, Leibniz, dan – mungkin paling penting – Spinoza, kita dapat merasakan bahwa dia tidak hanya tertarik untuk menelusuri teori-teori terdahulu hanya demi pemahaman atasnya saja, tapi lebih dari itu, Deleuze seakan sedang mencari cara untuk memahami realita yang dihidupinya dengan menggunakan teori-teori lama. Observasi Claire Parnet, yang ia nyatakan dalam wawancaranya dengan Deleuze, bahwa bahkan ketika Deleuze sedang melakukan interpretasi atas Nietzsche dan Kant, Deleuze tetap terlihat sebagai seorang Deleuzian dan tidak semata seorang Nietzchean atau Kantian, memang tepat.  Filsafat, bagi Deleuze, adalah sebuah kendaraan yang digunakan untuk memobilisasi dan mengaktivasi pemikiran baru, melampaui bayangan para filsuf terdahulu itu. Pendekatan Deleuze akan filsafat yang sepenuhnya utilitarian adalah suatu model berfilsafat yang menyegarkan: filsafat tidak dianggap sebagai spekulasi abstrak belaka tapi suatu alat untuk mencapai tujuan-tujuan konkrit.

Damian Sutton memberi ulasan yang singkat namun tepat tentang jangkauan  pengaruh Deleuze. Jargon yang sering kita dengar tentang pola pikir “non linear”, atau trend tentang “berjejaring” dalam praktik kultural, misalnya, bisa ditelusuri kembali ke konsep yang disusun oleh Deleuze dengan Guattari dibawah nama “rizoma” (rhizome). Fokus praktik kesenian saat ini pada “proses”, sebagai contoh lain, juga dapat dilihat sebagai penerapan ide Deleuze tentang “becomings”.   Atau lihat korpus para pemikir termutakhir saat ini seperti Å½ižek, Badiou, Hardt dan Negri – banyak gagasan mereka yang secara lansung dan tidak langsung terinspirasi oleh filsafat Deleuze. Pengaruh Deleuze terlihat di area budaya visual melalui tulisan-tulisan Vilém Flusser, atau di kajian teknologi kontemporer seperti dalam karya-karya Bruno Latour. Di area seni kontemporer, Simon O’Sullivan juga memiliki interpretasi yang menarik akan ide-ide Deleuze. 

Kesalahan terbesar yang bisa kita lakukan dalam menggunakan filsafat Deleuze adalah semata mengkutipnya seperti semacam kitab suci. Ini bertentangan dengan dinamisme filsafat Deleuze yang tidak hanya terpaku pada pembacaan yang akurat atas teks yang sudah ada, tapi lebih dari itu: bagaimana kita bisa menjalin suatu hubungan dengan gagasan yang sudah ada dan memperluasnya, membawanya ke arahan-arahan yang tidak pasti dan tidak terduga. Ini adalah taktik berfilsafat yang sangat khusus, dimana terjadi sebuah keretakan penting dari tradisi berfilsafat sebelumnya. Kita tidak perlu menghayati ide-ide Deleuze selayaknya dogma: melainkan, lebih penting untuk mencari cara untuk menggunakan Deleuze juga sebagai sebuah alat untuk memobilisasi pola pikir baru dan tidak terbayangkan atas peristiwa yang terjadi di sekitar kita.

Termasuk juga dalam area kesenian. Keliru jika kita semata berusaha menggunakan ide-ide Deleuze untuk membaca suatu karya atau suatu praktik kesenian, dengan harapan mengutarakan pemikiran baru tentang karya atau praktik itu. Mengapa? Karena dengan cara ini tidak akan terjadi pengembangan dari kompleksitas filsafat yang digunakan. Kita tidak menciptakan metode baru, hanya menggunakan rumus lama. Mungkin dengan cara ini kita mencapai suatu pembacaan baru tentang karya yang sedang dibicarakan, tapi – dan ini kesalahan krusial – tidak ada metode baru yang kita ciptakan disini.

Disini kita juga bisa belajar dari bagaimana Deleuze berhubungan dengan karya dan praktik tertentu. Ada 2 taktik yang digunakan Deleuze: pertama, konsep-konsep tertentu membawa Deleuze ke karya dan praktik tertentu (idenya tentang “body without organs”, misalnya, membawanya ke Francis Bacon); kedua, karya dan praktik tertentu membawanya ke ide-ide tertentu (karya Eisenstein dan Kurosawa adalah cara untuk mengartikulasikan ide-ide seperti “perception-image” dan “action-image”).

John Rachmann menarik kesimpulan seperti berikut atas bagaimana Deleuze menjalin hubungan antara filsafat dan kesenian: di tangan Deleuze, filsafat dan kesenian adalah 2 tipe virus yang berbeda dan saling menularkan, dan hanya dengan itu memiliki kapasitas untuk membiakkan pola pikir baru, dimana “seni dan gagasan menjadi hidup dan menemukan gemanya melalui satu sama lain.”


Thursday, 26 September 2013

Tentang "yang eksperimental".


Foto dari workshop Ardi Gunawan, Playing with Mirrors, 23 - 25 September 2013, Galeri Nasional Jakarta.

Setelah mengunjungi pameran seniman residency yang diselenggarakan oleh Galeri Nasional dan ruangrupa, satu pertanyaan muncul: apa yang dimaksud dengan “yang eksperimental”?

Dalam kesenian, praktik “eksperimental” tumbuh dari semacam kebosanan atas melakukan hal-hal yang sudah dilakukan sebelumnya secara berulang-ulang, dari semacam keingin-tahuan untuk melakukannya dengan cara yang belum pernah dilakukan, dan hasil apa yang akan berkembang darinya.

Yang menjadi problematis adalah ketika praktik “eksperimental” menjadi sebuah topeng dari paradigma “anything goes”: apa saja boleh. Disini, yang terpenting adalah pembangkangan dari pemikiran-pemikiran yang dianggap sudah memapan, peruntuhan batas-batas yang tadinya diasumsikan permanen, dan pencobaan atas hal-hal baru dengan alih-alih “kenakalan”, “kejailan”, dan sebagainya. Tujuan dari eksperimentasi itu sendiri menjadi tidak penting, karena “bereksperimen” sudah menjadi suatu tujuan yang valid pada sendirinya. Upaya untuk mendefinisikan tujuan dari eksperimentasi terlihat kolot dan tidak sesuai, karena takut akan membatasai sifat eksperimentasi yang seharusnya tidak terbatas itu.

Tapi ketika kita melihat kembali impetus utama untuk melakukan eksperimen, sebenarnya terdapat sebuah tujuan yang jelas: untuk mengartikulasikan ide, gagasan, dan moda yang sebelumnya tidak pernah diartikulasikan. Ini, maka dari itu, adalah tujuan dari eksperimentasi yang melampaui tindakan atau aksi eksperimen itu sendiri.

Ketika tujuan seperti ini sudah dipertegas, maka kita bisa mengevaluasi apa iya sebuah praktik eksperimental dapat terbilang sukses. Tentu saja, ini melampaui dikotomi reduktif tentang “baik” dan “buruk” – misalnya, ada karya yang “baik” dan yang “buruk”. Melainkan, penetapan tujuan seperti ini menjadi semacam parameter untuk mempertanggung jawabkan bahwa sebuah praktik memang benar bersifat “eksperimental” - dan kalau ya, apa hal baru yang diutarakan olehnya? Dan untuk mengukur "yang baru" ini, sudah jelas bahwa harus ada pengetahuan yang luas dan dalam tentang "yang lama", yang sudah pernah dilakukan sebelumnya.

Yang banal, yang "tolol" dan tidak "intelektual", yang  keseharian – ini adalah tema-tema yang seringkali diusung oleh praktik-praktik seni yang “eksperimental” di Jakarta. Namun dalam wacana seni global yang lebih luas, persoalan macam ini sebenarnya sudah menjadi persoalan pokok pergulatan para praktisi selama berdekade-dekade. 

Ah, banyak sekali yang bisa dibicarakan tentang ini. Akan berlanjut di posting berikutnya. 

Tuesday, 18 June 2013

Workshop Penulisan di ruangrupa


David Burrows dan Simon O'Sullivan, Defacialisation Shrine, 2006 (www.plastiquefantastique.org).

Hari Kami besok, 20 Juni 2013, saya akan menjadi pemateri di “Workshop Penulisan Kritik Seni Rupa dan Budaya Visual” yang diselenggarakan oleh ruangrupa.

Linknya disini:

Tema yang ditentukan oleh ruangrupa untuk sesi saya adalah: “Membaca Filsafat untuk Mengkritik Seni Rupa Kontemporer”.

Salam kenal untuk semua peserta! 

Sampai ketemu besok lusa, dimana kita akan berdiskusi tentang bagaimana visualitas, seni, dan gagasan filosofis saling berkelindan dan terpintal dalam sebuah jaringan yang kita sebut sebagai ‘kebudayaan’.