When I concentrate on a specific site or place for which I am going to design a building, when I try to plumb its depths, its form, its history, and its sensuous qualities, images of other places start to invade this process of precise observation: images of places I know and that once impressed me, images of ordinary or special places places that I carry with me as inner visions of specific moods and qualities; images of architectural situations, which emanate from the world of art, or films, theater or literature.
Friday, 20 January 2012
Peter Zumthor's 'Thinking Architecture'
When I concentrate on a specific site or place for which I am going to design a building, when I try to plumb its depths, its form, its history, and its sensuous qualities, images of other places start to invade this process of precise observation: images of places I know and that once impressed me, images of ordinary or special places places that I carry with me as inner visions of specific moods and qualities; images of architectural situations, which emanate from the world of art, or films, theater or literature.
Wednesday, 28 December 2011
To Build is to Destroy
The photographs in this collection represent the changing topographic contours of a particular landscape as it becomes subject to development. The paradoxical dynamic of land development is the central theme that interests Pritt. To develop doesn’t simply mean to cause growth or expansion, but also to demolish and take apart what was already there. The act of building, in other words, essentially implicates destroying.
Foto-foto di koleksi ini adalah representasi akan perubahan bentuk topografis sebuah lahan yang sedang menjadi objek pembangunan. Dinamika pembangunan yang penuh paradoks adalah tema utama yang menjadi daya tarik untuk Pritt. Membangun tidak semata berarti menghasilkan pertumbuhan atau pengembangan, tapi juga membongkar dan memporak-poranda apa yang sudah ada disana. Tindakan membangun, dalam kata lain, pada dasarnya selalu melibatkan tindakan memusnahkan.
Pritt’s ‘no-frills’ approach presents a unique way of inviting the viewer’s contemplation. Although it is essentially a response to the social practice of human’s intervention into natural environment, the observatory tone remains detached and objective rather than overly sentimental. The neutrality of the photographer’s eye represents these places in their own terms, uncluttered by emotional excess. Pritt’s account is above all else documentative, offering a detailed accuracy and stark reportage stylization.
Pendekatan Pritt yang tanpa ‘embel-embel’ menghadirkan sebuah cara unik untuk mengundang renungan. Meskipun foto-foto ini sebenarnya adalah sebuah tanggapan terhadap praktek sosial campur tangan manusia pada lingkungan alam, nadanya yang ‘dingin’ dan penuh observasi tetap objektif. Pandangan si fotografer yang netral menggambarkan tempat-tempat ini tanpa beban emosional. Karenanya, foto-foto ini terlihat seperti sebuah dokumentasi, menawarkan ketelitian mendetil dan gaya reportase yang jujur.

Suasana ‘berjarak’ yang hadir disini juga terbangun karena tidak adanya figur manusia. Tetapi keberadaan mereka tetap bisa dirasakan melalu representasi akan segala kebutuhan dan ambisinya. Misalnya, gaya hidup seseorang yang membutuhkan sepeda motor di foto diatas ini atau konstruksi yang terjadi sebagai produk keinginan manusia akan perkembangan. Biarpun tidak ada manusia disini, kehadirannya tidak dapat dipungkiri.
‘Berjarak’ namun tetap intim, foto-foto ini mengajak kita untuk mempertanyakan sebuah kontradiksi mendesak yang melekat pada kemampuan manusia untuk membangun: bagaimana kita menegosiasi garis yang tipis antara membangun dan menghancurkan?
Jarak

One of the things I like best about German photography after the Bechers (quick Wiki here) is the avoidance of sentimentality. To my eyes, this emphasis on detached neutrality allows so many readings to be introduced. In this way it highlights the impossibility of a totalised, definite understanding of things. Our perspective is loaded with limitations, and and never remains static. But alongside this, the various manipulation techniques used here also come across as a mockery towards objective neutrality itself: what we take to be 'reality' or the 'truth' turns out to be manipulated. A contradiction that speaks of a specific era in history.
Salah satu hal yang paling menarik dari Fotografi Jerman setelah Bernd dan Hilla Becher (wiki disini) adalah penghindaran dari sentimentalitas berlebihan. Di mata saya, fokus pada 'jarak' dan 'netralitas' mempersilahkan begitu banyak interpretasi. Dengan begini, foto-foto ini menekankan tidak mungkin adanya sebuah pengertian yang absolut dan pasti. Perspektif manusia sarat dengan segala keterbatasan, dan tidak henti bergerak. Tapi disamping ini, bermacam teknik manipulasi yang digunakan terlihat seperti ejekan terhadap keinginan akan objektifitas yang netral sendiri: apa yang kita lihat sebagai 'kenyataan yang benar' ternyata hasil manipulasi. Sebuah kontradiksi yang melambangkan suatu era historis yang spesifik.






